Chat with us, powered by LiveChat

Tanpa Penghasilan, Seorang Nenek Membiayai Hidup Tiga Cucunya

Nenek Titi (63) warga Blok Majasari, Desa Jatiserang, Kecamatan Panyingkiran, di usianya yang sudah senja dan tidak memiliki pekerjaan harus menghidupi serta menyekolahkan tiga cucunya yang masih kecil karena ibunya telah meninggal dan ayahnya pergi.

Dia kini setiap pagi membersihkan ruang kelas PAUD tempat cucunya sekolah, dari sana dia mendapatkan uang jajan untuk cucunya yang setiap hari diterimanya sebesar Rp 6.000 hingga Rp 7.000 dari pemberian orangtua murid yang mengekolahkan anaknya di sana. Sementara untuk makan mengandalkan kiriman dari salah satu anaknya serta belas kasihan warga lain.

Demikian juga dengan pakaian seragam sekolah cucu-cucunya, mengandalkan pemberian dari pihak lain yang peduli dengan mereka.

Titi mengaku sudah dua tahun mengasuh ketiga cucuknya Rinto yang kini duduk di bangku kelas II SMP, Risma (6) yang kini sekolah di TK serta Rendi yang kini menginjak usia 4 tahun. Tidak ada keluarga lain yang bisa diandalkan untuk mengasuh ketiga anak tersebut.

“Dua tahun lalu anak saya Iros (ibu dari cucunya), meninggal mendadak, menyusul kakeknya. Semenjak ibunya meninggal, bapaknya pulang ke kampung halamnnya di Jombol, Kadipaten.” kata Titi.

Dia kini hidup berempat di rumah peninggalan anaknya, sebelumnya Titi bersama suaminya tinggal di gubuk tak jauh dari rumah yang ditempatinya sekarang. Beberapa tahun lalu, Titi masih bisa bekerja sebagai buruh tani, ikut tandur (menenam padi) atau dibuat (memanen padi) di sawah tetangga sehingga untuk makan tak perlu mengandalkan belas kasihan. Namun kini tak mampu lagi bekerja karena gangguan kesehatan. Sudah lama mengidap penyakit mag yang katanya sulit disembuhkan walaupun sudah mengkonsumsi beragam ramuan.

“Pernah ke dokter katanya sulit sembuh. Penyakit terasa sangat sakit terutama di saat malam hari hingga sulit tidur. Siang tidak bisa bekerja kecuali menyapu dan mengepel ruang sekolah Paud,” ungkap Titi.

 

Tidak miliki kartu sehat

Uang  yang diperoleh setiap hari dari pemberian orangtua murid Paud menurutnya dipergunakan uang jajan cucunya. Hanya terkadang cucunya yang paling besar berangkat sekolah tanpa uang jajan, karena adiknya sering menuntut jajan. Sebagian dibelikan untuk sayur matang dari pedagang keliling untuk teman nasi.

“Bapak barudak opat sasih masihan Rp 150.000 (orang tua anak-anak selama empat bulan terakhir pernah mengirim Rp 150.000),” katanya.

Titi dan ketiga cucunya kini tidak memiliki Kartu Sehat sehingga saat berobat harus tetap bayar, merekapun tidak mendapatkan bantuan non tunai seperti halnya keluarga miskin lainnya, atau juga Program Keluarga Harapan (PKH) untuk membantu biaya sekolah.

“Ti kapungkur ge tara aya bantosan (sejak dulu juga tidak pernah menerima bantuan),” ungkapnya lagi.

Nana salah seorang tokoh masyarakat setempat membenarkan kondisi keluarga Titi. Dia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian kepada mereka, karena perhatian yang diberikan warga setempat terbatas.

“Ditengah keterbatasan kondisi ekonomi, Rinto yang duduk di bangku SMP dia tetap berprestasi, piala berbagai kejuaraan diperolehnya,” ungkap Nana.

Bentuk bantuan yang diberikan menurutnya untuk hidup sehari-hari, karena Titi tidak bisa usaha. Selain itu kebutuhan sekolah untuk ketiga anak tersebut.***

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *